EDISI JANUARI - FEBRUARI 2010
Kategori Wacana
KAJIAN TELAPAK EKOLOGIS : PERTIMBANGAN UNTUK STRATEGI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN

Ir. Inge Retowati, ME (Kepala Sub Bidang Pemanfaatn Ruang )

KAJIAN TELAPAK EKOLOGIS :
PERTIMBANGAN UNTUK
STRATEGI PEMBANGUNAN BERKELANJUTAN
 
Oleh:
Ir. Inge Retnowati, ME[1]
 
 
 
Latar Belakang
 
Dalam dua dasawarsa terakhir, Indonesia dihadapkan pada kenyataan bahwa lingkungan hidup mengalami kerusakan yang semakin parah. Bencana banjir, longsor, dan kekeringan terjadi di berbagai daerah dengan intensitas yang cukup tinggi. Dalam tahun 2008, terjadi 197 kejadian banjir, 65 kejadian longsor, dan 22 kejadian banjir dan longsor (KLH, 2008). Konversi lahan hutan menjadi perkebunan, pertanian, permukiman, wisata dan pertambangan, yang dilakukan tanpa mengindahkan prinsip-prinsip keberlanjutan lingkungan, berpengaruh secara signifikan terhadap kerusakan lingkungan tersebut.
 
Dalam konteks daya dukung lahan, ketersediaan lahan di beberapa pulau besar mengalami overshoot, yakni terlampauinya ketersediaan lahan oleh kebutuhan. Kajian daya dukung lingkungan di beberapa provinsi di Sumatera (KLH, 2008), mengindikasikan bahwa empat provinsi telah berstatus terlampaui. Hal ini juga terjadi di Pulau Jawa. Ini adalah pemanfaatan ruang yang tidak sesuai dengan kemampuan lahan (land capability). Lahan yang berada pada area rawan longsor, seharusnya tidak dibuka untuk pertanian tanaman pangan – tanpa intervensi teknologi secara tepat - atau pemanfaatan lain yang tidak sesuai. Sebaliknya, beberapa daerah lereng curam di Jawa dan Sumatera diubah fungsinya sebagai lahan pertanian. Akibatnya, terjadi kerusakan lahan yang sangat sulit untuk direhabilitasi, apalagi dengan hilangnya lapisan tanah subur akibat longsor.
 
Kerusakan hutan dan lahan mengakibatkan dampak lebih luas berupa  perubahan iklim dan krisis pangan. Banjir dan longsor merusak lahan pertanian dan menurunkan hasil panen yang merupakan sumber pangan masyarakat. Dilihat dari aspek ekonomi, peningkatan pendapatan sesaat yang dihasilkan dari pemanfaatan ruang yang tidak mengindahkan kondisi ekologis, justru berdampak pada penurunan pendapatan di kemudian hari, karena produksi tidak berkelanjutan setelah area pemanfaatan mengalami kerusakan.
 
Hal lainnya, tekanan terhadap ketersediaan air. Peningkatan jumlah penduduk dan kegiatan pembangunan menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan air. Pada saat yang sama, peningkatan kegiatan seperti industri dan pertambangan juga berdampak pada kualitas air. Lebih jauh, kualitas air dipengaruhi oleh kuantitasnya, karena menentukan kemampuan purifikasi air dalam menerima beban limbah. Salah satu faktor yang mempengaruhi ketersediaan air adalah pemanfaatan ruang, terutama pada daerah tangkapan air.
 
 
Daya Dukung Lingkungan Hidup dan Kajian Telapak Ekologis dalam Pembangunan Berkelanjutan
 
Upaya menyelesaikan permasalahan lingkungan sebagaimana diuraikan di atas, pendekatan praktis yang mengangkat konsep daya dukung lingkungan hidup ke dalam perencanan pembangunan sangatlah penting. Konsep tersebut mengarahkan pengukuran kemampuan lingkungan dalam mendukung perikehidupan manusia dan makhluk hidup lain, khususnya dalam mendukung kegiatan pembangunan, agar tidak berdampak terhadap penurunan fungsi lingkungan itu sendiri, baik dalam bentuk kerusakan maupun pencemaran.
 
Implementasi konsep daya dukung lingkungan hidup untuk pembangunan berkelanjutan, kajian telapak ekologis merupakan salah satu bentuk penerapan yang baik. Dimana, dilakukan pengukuran terhadap tingkat ketersediaan dan kebutuhan produk hayati, baik yang potensial maupun aktual, yang sangat diperlukan dalam menentukan tingkat pemanfaatan sumber daya alam dan lingkungan hidup –termasuk pemanfaatan ruang- yang optimal.
Kajian telapak ekologis juga menjadi masukan penting untuk mengukur kemampuan hayati (biocapacity) suatu daerah dibandingkan daerah lain dalam pemenuhan kebutuhan penduduk setempat maupun penduduk daerah lain, sehingga menjadi acuan yang baik dalam perencanaan pembangunan wilayah, dan antar wilayah.
 
 
Sekilas Teori Daya Dukung Lingkungan Hidup
 
Bagi spesies hewan, daya dukung lingkungan didefinisikan sebagai populasi maksimum yang dapat didukung oleh suatu habitat, tanpa menyebabkan penurunan produktifitas ekosistem. Bagi kehidupan manusia, daya dukung lingkungan didefinisikan sebagai tingkat maksimum konsumsi sumber daya alam dan buangan limbah pada suatu wilayah, tanpa menyebabkan penurunan produktifitas dan integritas ekologis.
 
Daya dukung lingkungan bersifat tidak tetap, tidak statis, dan tidak simpel, tetapi dipengaruhi teknologi, preferensi, serta struktur proses produksi dan konsumsi. Daya dukung juga dipengaruhi oleh interaksi antar komponen bio-fisik lingkungan, dan sosial.
 
Dalam konsep daya dukung lingkungan untuk perencanaan pembangunan, kehidupan manusia tergantung pada kapasitas produksi dari ekosistem, dan bahwa tingkat minimum dari integritas ekosistem sangat esensial bagi ketahanan kehidupan manusia. Dalam kerangka ekologis, tingkat kegiatan pembangunan atau tingkat ekonomi yang tidak melampaui daya dukung lingkungan, dinilai sebagai kondisi yang berkelanjutan.
 
Dalam implementasi konsep daya dukung lingkungan, peningkatan kualitas hidup dimungkinkan apabila pola dan tingkat kegiatan produksi dan konsumsi sesuai dengan kapasitas sumber daya alam dan preferensi masyarakat. Jadi, daya dukung lingkungan berbasis proses perencanaan, mencakup integrasi antara ekspektasi sosial dan kapabilitas ekologis (P. Khanna, et.al., 1999).
 
Daya dukung lingkungan hidup terbagi menjadi 2 (dua) komponen, yaitu kapasitas penyediaan sumber daya alam (supportive capacity) dan kapasitas tampung limbah (assimilative capacity) (Gambar 1).
 


[1] Staf pada Deputi Bidang Tata Lingkungan, Kementerian Lingkungan Hidup